untuk Ibu dan Bapak, aku mencintaimu
Manis, layaknya secangkir teh hangat pagi
ini.
Pagi ini murung.
Mendung menggantung. Sama sekali tak memberi celah bagi surya untuk mengapung bersamanya,
tidak sekecil lubang jarum pun. Sangat kontras dengan suasana hatiku yang manis,
persis dengan secangkir teh hangat yang tersaji pagi ini. Entah mengapa, aku
pun sulit untuk menjelaskan. Namun yang pasti, setiap teguknya memberi arti
tersendiri bagiku.
Tegukan pertama,
mengingatkanku dengan rumah. Tempat tinggalku dari kecil bersama dengan kedua
orang tuaku. Rumah yang menjadi saksi perjalananku. Menjadi saksi suka, duka,
canda, tawa, dan bahagia bersama dengan orang-orang tersayang. Rumah yang tak
bisa tergantikan kenyamanannya, meski aku berada di hotel bintang lima sekali
pun. Meski rumahku tak sebesar Buckingham
Pallace, tak seelok istana yang ada dalam film Barbie, namun rumahku tetap
yang terbaik, tetap yang terindah di mataku. Aku sangat bersyukur bisa tinggal
di dalamnya.
Tegukan kedua, membawaku
terbang ke kamar kesayanganku. Kamar bernuansa biru yang dipenuhi dengan hiasan
bintang-bintang. Aku memang menyukai bintang, karena bagiku dia selalu ada
meski tak selalu tampak. Ada satu lagi alasan aku menyukai bintang, yaitu satu
kalimat yang kutemui ketika membaca novel. Kenapa
harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu
gelap?. Selalu ada kebahagiaan tersendiri jika aku berada di dalamnya.
Tiada yang bisa menandingi.
Aku melihat
sekelilingku, mendung masih menggantung. Padahal seharusnya saat ini surya
sudah beranjak tinggi. Tapi… hanya putih dan kelabu. Menyembunyikan senyum
hangat surya. Ah, apa boleh buat. Mungkin saat ini surya sedang galau, sehingga
tak sedikitpun ada sapaan darinya. Tapi aku tak perlu turut galau, aku harus
ceria. Ya, aku harus tetap manis. Semanis teguk demi teguk teh hangat yang
kembali kunikmati.
* * * * *
Kali ini tegukan
ketiga, menghadirkan ibu dalam pikiranku. Orang tua yang mengandungku selama
sembilan bulan, melahirkanku, dan selalu mengalirkan kasih sayangnya dari aku
kecil hingga sekarang. Ibu bagaikan bintang bagiku. Meski tak selalu di sisiku,
namun selalu menemaniku. Seperti saat ini, saat aku berada jauh darinya. Terpisah
ratusan kilometer darinya, demi membuka wawasanku tentang gemerlap dunia.
Memudahkan jalanku menggapai semua cita. Aku harus menahan segala bentuk
rinduku kepadanya. Rindu wajah teduhnya, rindu hangat peluknya, rindu tutur
lembutnya, rindu cinta kasihnya, rindu semua yang ada padanya. Setidaknya aku
masih bisa merasakan, meski harus menunggu satu bulan lamanya. Meski hanya tiga
hari; jumat, sabtu, dan munggu. Aku tetap harus bersyukur. Seperti nasihat yang
selalu ibu kumandangkan untukku.
Tegukan keempat,
masih menghadirkan ibu dalam pikiranku. Ibu yang selalu menyambut saat aku
pulang dari medan perang, meski tengah malam. Ibu yang tetap memberi senyum
manisnya saat dirinya lelah. Ibu yang selalu bisa membuatku tenang saat
menangis tersedu. Ah, ibu memang selalu nomor satu. Seperti tak ada kata lelah
untuk selalu mencurahkan cintanya, memberi kasih sayangnya. Ibu, aku rindu… kau
tau? Aku selalu rindu kepadamu, Ibu. Tak peduli meski hanya berpisah satu
tahun, satu bulan, satu hari, bahkan terpisah satu detik pun aku sudah rindu
padamu, bu.
Tegukan kelima, tetap
menghadirkan ibu dalam pikiranku. Ibu yang selalu bangun pagi untuk memasak.
Ibu yang selalu menghidangkan makanan kesukaanku saat aku ada di rumah. Ibu
yang selalu membuat bangun tidurku menjadi indah. Ibu yang selalu, selalu, dan
selalu menjadikan hari-hariku penuh warna. Jika boleh aku membuat pengakuan,
aku tak bisa menuliskan semua yang sudah dilakukan ibu untukku. Terlalu banyak
yang sudah ibu berikan untukku. Banyak, sangat banyak, bahkan tak dapat
dihitung, dan yang pasti sama sekali tak mengharap balas. Ya Allah… terbuat
dari apakah hati ibu, sehingga tak pernah luntur cintanya, tak pernah pudar
kasih sayangnya. Sekali lagi aku ingin katakana, aku selalu merindukanmu, ibuku
sayang.
Aku menghela
napas sejenak. Kulihat hujan sedang turun. Tampaknya langit sudah tak kuasa
menahan sedihnya, dia menjatuhkan air matanya. Membuat makhluk yang ada di bumi
meninggalkan sejenak aktivitasnya di jalan. Menjadikan raga yang letih langsung
terlelap dalam buai mimpi. Ah, aku tidak sadar. Ternyata dzuhur telah berlalu.
Tampaknya bukan karena aku tidak sadar, karena memang tak pernah cukup waktu
untuk menuliskan apapun tentang ibu, sehingga waktu pun cepat untuk berlalu.
* * * * *
Aku melongok secangkir teh hangat di depanku.
Masih ada. Kunikmati kembali dan kali ini tegukan keenam, memunculkan bapak
dalam pikiranku. Orang tua yang selalu menjaga, melindungi, dan menghidupiku
sejak aku lahir hingga sampai saat ini. Bapak,
orang yang selalu ada buatku dalam keadaan apapun, sama seperti ibu. Bapak
selalu menjemputku saat aku pulang dari medan perang, dan mengantarku kembali.
Bapak juga yang mendukung setiap langkahku, mengarahkanku, memberiku contoh
yang baik dalam menjalani hidup. Bapak adalah orang yang rajin bekerja.
Berangkat pagi, bahkan menyaingi anak sekolah, dan pulang ketika senja hampir
tiba. Untunglah ketika aku pulang, bapak juga menikmati liburnya. Ya, meskipun
bapak seorang pegawai negeri, tapi ketika ada acara yang berkaitan denganku,
bapak selalu meminta izin untuk menghadirinya. Ya Allah, bapak begitu baik,
begitu sabar, dan perhatian. Bapak adalah orang yang selalu memberiku motivasi
untuk tetap melangkah maju, menggapai cita-cita, dan meraih asa yang aku tuju.
Tegukan ketujuh.
Ah, sepertinya ini tegukan terakhir teh hangat pagi ini. Baiklah, tegukan
terakhir ini menyadarkanku, bahwa aku sudah terlalu lama berimajinasi, sudah
terlalu lama berkutat dengan aksara-aksara yang telah terangkai. Samar-samar
ada yang mengajakku bercengkerama.
“Sampai kapan kau terus-terusan asik dengan
imajinasimu?” Aku mencari darimana suara itu berasal. “Hei! Aku di sini! Di sekitarmu!”
Oh, aku lupa.
Ternyata masih banyak tugas akhir yang harus kukerjakan. Ternyata yang
menyapaku dari tadi adalah tugas akhir yang banyak berkeliaran di sekitarku.
“Baiklah, tugas
akhir, aku datang untuk menyelesaikanmu!
*** Sekian ***
Malang, 29 November 2014
19:26 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar