Selamat datang di blogku ^_^

Jumat, 18 Mei 2018

Ramadan: Jangan Menjadi Orang yang Merugi

Ramadan#1
Ramadan. Bulan yang selalu dinanti, bulan yang dipenuhi dengan amalan-amalan yang tentu saja mengharap ridho Illahi. Kali ini, adalah Ramadan kedua yang kunikmati di kampung halaman. Bukan lagi di tanah perantauan. Alhamdulillah. Suatu kesyukuran yang tiada henti kudengungkan. Terlebih ramadhan ini serasa ada yang berbinar bahagia. Di antara ribuan nikmat-Nya, diperkenankan hamba mengurai syukur yang tiada tara atas keridhoan-Nya mempertemukan dengan dia yang akan membersamai di dunia dan InsyaAllah di akhirat juga. 

Ramadan juga menjadi momen spesial untuk dapat berkumpul dan bercanda dengan keluarga ketika makan sahur dan berbuka. Momen yang memang sangat dirindui meski makan bersama itu juga sering dilakukan sehari-hari. Tapi, entah mengapa ada yang berbeda rasanya. Tak seperti biasa. Lebih spesial, lebih berurai bahagia.

Ada yang berbeda
Ketika hari-hari yang biasa terlampaui bersama
Menjadi semakin bermakna
Kala ramadan datang menyapa
Dengan gurat senyum bahagia
Ia pun menularkannya kepada insan dunia
Begitu pula dengan sesiapa yang dengan ikhlas menghamba
Memohon ampunan, memintal doa, dan juga tiada henti menderma
Semoga baginya keridhoan Allah adalah jawabnya
Dan menjadi peluntur dosa-dosa yang telah diperbuat di waktu yang lama
Semenjak pertama kali menjejakkan kaki di alam semesta

Momen ramadan yang semakin terasa syahdunya adalah ketika salat berjamaah di masjid, musala, surau, maupun tempat ibadah yang serupa. Terlebih ketika ada sepenggal ilmu yang dibagikan di antara sekian rakaat salat yang terlaksana. Begitu pula dengan malam ini. Mengutip dari sebuah hadits nabi, setangkai ilmu menyesap dalam memori.

“Ada tiga golongan orang yang merugi di dunia. Pertama, ketika ada yang menyebut nama Muhammad tetapi ia tidak bershalawat atasnya. Kedua, ketika ada orang yang tinggal dengan kedua orang tuanya tetapi tidak membuatnya masuk surga. Ketiga, orang yang melaksanakan puasa di bulan Ramadan tetapi Allah tidak mengampuni dosa-dosanya.”

Pertama, orang yang merugi adalah orang yang ketika mendengar ada yang menyebut nama Muhammad, tetapi tidak mau bershalawat atasnya. Orang yang demikian patutlah disebut sebagai orang yang pelit. Namun yang perlu diingat adalah bershalawat atas Nabi Muhammad adalah sesuai dengan apa yang telah diajarkan olehnya, tidak ditambah-tambahi seenaknya. Shalawat yang dimaksud adalah Allahumma shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad.

Kedua, orang yang tinggal dengan kedua orang tuanya tetapi tidak membuatnya masuk surga. Maksudnya adalah orang tersebut tidak akur dengan kedua orang tuanya. Islam mengajarkan manusia untuk patuh dan berbuat baik kepada orang tua. Birrul walidain. Jangan sampai ketika hidup di dunia dan kita diberikan kesempatan tinggal satu atap bersama kedua orang tua tetapi kita penuhi dengan percekcokan, saling menuding, menyalahkan, bahkan terkesan saling bermusuhan. Hal tersebut justru menjadi pemicu seseorang merugi hidup di dunia. 

Ketiga, orang yang melaksanakan puasa di bulan Ramadan tetapi Allah tidak mengampuni dosa-dosanya. Sangat merugi orang yang demikian. Menganggap puasa hanyalah ritual biasa yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tanpa berusaha memperbaiki apa yang kurang dalam dirinya, bermuhasabah untuk dapat semakin baik dan semakin baik nantinya. 

Semoga kita bukan termasuk dalam tiga golongan orang yang merugi di dunia. Di dunia saja merugi, bagaimana dengan di akhirat nanti? Naudzubillahi min dzaalik. Marilah di momen Ramadan ini kita tingkatkan kapasitas diri untuk berbenah dan memperbaiki apa yang sebelumnya kurang pada diri. Mari berlomba dalam kebaikan, menebar manfaat kepada sesama, dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa.

17 Mei 2018 M │ 01 Ramadan 1439 H
#ramadanchallengeday1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar