Pages

Rabu, 04 September 2013

Karena Kamu, Aku Sempurna



Tiara terus memandang keluar jendela kamarnya. Sejak lima menit lalu, belum sedetik pun dia melepas pandangannya. Percakapan yang dilakukannya beberapa saat lalu seolah terus menggelayut dalam pikirannya. Sulit baginya untuk memutuskan.
“Mama ingin kamu melanjutkan kuliah di sini, sayang.”
“Maaf, Ma, Tiara belum memikitkan hal itu.” Jemari Tiara berulang-ulang mengetuk pelan meja belajarnya.
“Kamu nggak boleh gitu dong, saying. Ini juga demi masa depan kamu. Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu” Terang Intan, sang Mama.
“Iya, Ma. Tiara juga tahu itu. Tetapi Mama juga harus tahu kalau Tiara nggak mungkin pisah dengan Mutia.” Jelas Tiara lembut, “Ma, Mutia itu saudara sekaligus sahabat yang selalu setia kepada Tiara. Dia tempat berbagi sekaligus kawan yang tak pernah meninggalkan Tiara sendiri, dalam hal apapun. Seandainya nanti Tiara jadi nyusul Mama ke London, apa Mama bisa menjamin Tiara bakal nemuin orang sebaik dan selembut Mutia?” Lanjut Tiara panjang lebar.
Lama. Tak ada jawaban dari Mamanya. Seoalh alasan yang diajukan Tiara tak bisa ditolak olehnya. Sudah bukan rahasia lagi kalau Bu Intan lebih menyayangi Tiara daripada Mutia, meski keduanya lahir pada hari, bulan, dan tahun yang sama, hanya berbeda beberapa menit saja. Mungkin karena Tiara lebih cerewet dan aktif disbanding dengan Mutia yang lembut dan pendiam, namun sebenarnya kualitas otak mereka sama-sama pantas mendapat acungan jempol.
Lamunan panjang Tiara pecah saat terdengar pintu kamarnya terbuka. Tanpa melihat, Tiara sudah mengetahui siapa yang masuk dalam kamarnya. Mutia langsung mengambil posisi duduk di dekatnya, di tepi tempat tidur.
“Kok belum tidur, Tia?” Tanya Tiara mencoba mengalihkan pikirannya.
“Aku baru aja selesai mengerjakan tugas Ekonomi, iseng-iseng lihat kamar kamu ternyata kamu juga belum tidur.” Jawab Mutia dengan senyumnya yang khas.
Tiara turut tersenyum mendengarnya. Ya, sedikit menghibur dirinya. Meski permintaan Mamanya terus mengiang dalam telinga.

# # #

Tiara berjalan menjauhi gerbang sekolahnya. Sembari menunggu Mutia pulang dari les piano. Tiara memilih untuk berjalan-jalan di sekitar sekolah daripada menerima tawaran teman-temannya untuk jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.
“Keputusan apa yang harus aku ambil?” Batin Tiara kembali berkecamuk. Entah mengapa permintaan sang Mama terus membayangi pikirannya. Di satu sisi, belajar ke London sudah menjadi impiannya sejak kecil. Namun di sisi lain, dia butuh Mutia untuk selalu ada di sampingnya, menemani setiap episode dalam hidupnya, tetapi Mutia selalu menolak ajakannya untuk hijrah ke London.
“Negeri ini juga memiliki perguruan tinggi yang bisa memberikan lulusan berkualitas. Tiara, kita memang dilahirkan dari rahim dan waktu yang bersamaan, tetapi kamu juga pasti tahu jika setiap orang memiliki impian dan cita-cita yang berbeda-beda.” Jawaban cerdas itulah yang selalu muncul setiap kali Tiara memikirkan impiannya untuk pergi ke London.
“Ya Allah… Bantu hamba.” Ucap Tiara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ketika Tuhan memberi kita masalah, Dia tahu bahwa kita pasti bisa melaluinya. Mungkin akan nada luka, tetapi itu semua akan menjadikan kita dewasa.” Merdu. Mengena dalam kalbu. Tiba-tiba muncul sosok yang berlawanan jenis dengan Tiara, menatap Tiara sekilas dan tersenyum.
“Arsyada, kamu…?”
“Ternyata masih sama juga, suka melamun di jalan? Gimana coba kalau nanti ada kendaraan lewat?” Belum sempat Tiara menyelesaikan kalimatnya, sosok bernama Arsyada ini sudah mendahuluinya.
“Kamu… Kamu kok bisa ada di sini?”
“Udah deh, nggak usah mengalihkan pembicaraan, aku tahu kenapa kamu bisa seperti ini.” Lagi-lagi bukan jawaban dari pertanyaan Tiara.
“Maksud kamu?”
“Mutia sudah menceritakan semuanya”
“Mutia?” Tiara tak mengerti.
“Kamu ini pura-pura nggak ngerti atau gimana sih?” Protes Arsyada.
“Beneran, Ar, aku nggak ngerti.” Tiara meyakinkan Arsyada.
“Tiara, sebenarnya Mutia sudah tahu apa yang mengganggumu akhir-akhir ini. Dia sengaja tidak memberitahukan hal ini ke kamu, karena dia ingin menunggu kamu bercerita kepadanya…”
“Tunggu! Darimana Mutia tahu?” Potong Tiara.
“Secara tidak sengaja, dia sempat mendengar pembicaraanmu dengan Tante Intan di telepon.” Arsyada menghela napas sejenak, tampak Tiara yang sedikit terkejut dengan penjelasan Arsyada, “Ra, selagi ada kesempatan, manfaatkan kesempatan itu. Nggak usah khawatir, Mutia nggak sendirian di sini. Masih ada aku, Mama, dan Papaku. Kita pasti akan menjaga dan melindungi Mutia apapun yang terjadi.” Lanjutnya.
Tiara tak mampu lagi berucap, dia benar-benar lega mendengar penjelasan sepupunya ini. “Terima kasih, Arsyad.” Hanya kalimat itu yang berulang kali keluar dari mulutnya.
Memanglah segala sesuatu akan menjadi indah apabila kita saling mengerti, memahami, dan saling mendukung satu sama lain. Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tetapi ketakutanlah yang membuat kita sulit.
Kurasakan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaanmu padaku. Kini aku menyadari kalau dirimu begitu sayang kepadaku. Tetapi semua terassa menjadi tiada indah tanpa dirimu. Kan kujaga semua yang pernah kau berikan padaku.
“Tia, kamu harus selalu ingat. Tiara tak akan menjadi indah tanpa Mutia, karena bersamamu, Mutiara menjadi sempurna.” Ucap Tiara sesaat sebelum bertolak ke London yang dibalas dengan senyum termanis Mutia. J