Tiara terus memandang
keluar jendela kamarnya. Sejak lima menit lalu, belum sedetik pun dia melepas
pandangannya. Percakapan yang dilakukannya beberapa saat lalu seolah terus
menggelayut dalam pikirannya. Sulit baginya untuk memutuskan.
“Mama
ingin kamu melanjutkan kuliah di sini, sayang.”
“Maaf,
Ma, Tiara belum memikitkan hal itu.” Jemari Tiara berulang-ulang mengetuk pelan
meja belajarnya.
“Kamu
nggak boleh gitu dong, saying. Ini juga demi masa depan kamu. Mama hanya ingin
yang terbaik buat kamu” Terang Intan, sang Mama.
“Iya,
Ma. Tiara juga tahu itu. Tetapi Mama juga harus tahu kalau Tiara nggak mungkin
pisah dengan Mutia.” Jelas Tiara lembut, “Ma, Mutia itu saudara sekaligus
sahabat yang selalu setia kepada Tiara. Dia tempat berbagi sekaligus kawan yang
tak pernah meninggalkan Tiara sendiri, dalam hal apapun. Seandainya nanti Tiara
jadi nyusul Mama ke London, apa Mama bisa menjamin Tiara bakal nemuin orang
sebaik dan selembut Mutia?” Lanjut Tiara panjang lebar.
Lama.
Tak ada jawaban dari Mamanya. Seoalh alasan yang diajukan Tiara tak bisa
ditolak olehnya. Sudah bukan rahasia lagi kalau Bu Intan lebih menyayangi Tiara
daripada Mutia, meski keduanya lahir pada hari, bulan, dan tahun yang sama,
hanya berbeda beberapa menit saja. Mungkin karena Tiara lebih cerewet dan aktif
disbanding dengan Mutia yang lembut dan pendiam, namun sebenarnya kualitas otak
mereka sama-sama pantas mendapat acungan jempol.
Lamunan panjang Tiara
pecah saat terdengar pintu kamarnya terbuka. Tanpa melihat, Tiara sudah
mengetahui siapa yang masuk dalam kamarnya. Mutia langsung mengambil posisi
duduk di dekatnya, di tepi tempat tidur.
“Kok belum tidur, Tia?”
Tanya Tiara mencoba mengalihkan pikirannya.
“Aku baru aja selesai
mengerjakan tugas Ekonomi, iseng-iseng lihat kamar kamu ternyata kamu juga
belum tidur.” Jawab Mutia dengan senyumnya yang khas.
Tiara turut tersenyum
mendengarnya. Ya, sedikit menghibur dirinya. Meski permintaan Mamanya terus
mengiang dalam telinga.
# # #
Tiara berjalan menjauhi
gerbang sekolahnya. Sembari menunggu Mutia pulang dari les piano. Tiara memilih
untuk berjalan-jalan di sekitar sekolah daripada menerima tawaran
teman-temannya untuk jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.
“Keputusan
apa yang harus aku ambil?” Batin Tiara kembali berkecamuk.
Entah mengapa permintaan sang Mama terus membayangi pikirannya. Di satu sisi,
belajar ke London sudah menjadi impiannya sejak kecil. Namun di sisi lain, dia
butuh Mutia untuk selalu ada di sampingnya, menemani setiap episode dalam
hidupnya, tetapi Mutia selalu menolak ajakannya untuk hijrah ke London.
“Negeri ini juga
memiliki perguruan tinggi yang bisa memberikan lulusan berkualitas. Tiara, kita
memang dilahirkan dari rahim dan waktu yang bersamaan, tetapi kamu juga pasti
tahu jika setiap orang memiliki impian dan cita-cita yang berbeda-beda.”
Jawaban cerdas itulah yang selalu muncul setiap kali Tiara memikirkan impiannya
untuk pergi ke London.
“Ya Allah… Bantu
hamba.” Ucap Tiara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ketika Tuhan memberi
kita masalah, Dia tahu bahwa kita pasti bisa melaluinya. Mungkin akan nada
luka, tetapi itu semua akan menjadikan kita dewasa.” Merdu. Mengena dalam
kalbu. Tiba-tiba muncul sosok yang berlawanan jenis dengan Tiara, menatap Tiara
sekilas dan tersenyum.
“Arsyada, kamu…?”
“Ternyata masih sama
juga, suka melamun di jalan? Gimana coba kalau nanti ada kendaraan lewat?”
Belum sempat Tiara menyelesaikan kalimatnya, sosok bernama Arsyada ini sudah
mendahuluinya.
“Kamu… Kamu kok bisa
ada di sini?”
“Udah deh, nggak usah mengalihkan
pembicaraan, aku tahu kenapa kamu bisa seperti ini.” Lagi-lagi bukan jawaban
dari pertanyaan Tiara.
“Maksud kamu?”
“Mutia sudah
menceritakan semuanya”
“Mutia?” Tiara tak
mengerti.
“Kamu ini pura-pura
nggak ngerti atau gimana sih?” Protes Arsyada.
“Beneran, Ar, aku nggak
ngerti.” Tiara meyakinkan Arsyada.
“Tiara, sebenarnya
Mutia sudah tahu apa yang mengganggumu akhir-akhir ini. Dia sengaja tidak
memberitahukan hal ini ke kamu, karena dia ingin menunggu kamu bercerita
kepadanya…”
“Tunggu! Darimana Mutia
tahu?” Potong Tiara.
“Secara tidak sengaja,
dia sempat mendengar pembicaraanmu dengan Tante Intan di telepon.” Arsyada
menghela napas sejenak, tampak Tiara yang sedikit terkejut dengan penjelasan
Arsyada, “Ra, selagi ada kesempatan, manfaatkan kesempatan itu. Nggak usah
khawatir, Mutia nggak sendirian di sini. Masih ada aku, Mama, dan Papaku. Kita
pasti akan menjaga dan melindungi Mutia apapun yang terjadi.” Lanjutnya.
Tiara tak mampu lagi
berucap, dia benar-benar lega mendengar penjelasan sepupunya ini. “Terima
kasih, Arsyad.” Hanya kalimat itu yang berulang kali keluar dari mulutnya.
Memanglah segala
sesuatu akan menjadi indah apabila kita saling mengerti, memahami, dan saling
mendukung satu sama lain. Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tetapi
ketakutanlah yang membuat kita sulit.
Kurasakan ketulusan,
kejujuran, dan kesetiaanmu padaku. Kini aku menyadari kalau dirimu begitu sayang
kepadaku. Tetapi semua terassa menjadi tiada indah tanpa dirimu. Kan kujaga
semua yang pernah kau berikan padaku.
“Tia, kamu harus selalu
ingat. Tiara tak akan menjadi indah tanpa Mutia, karena bersamamu, Mutiara
menjadi sempurna.” Ucap Tiara sesaat sebelum bertolak ke London yang dibalas
dengan senyum termanis Mutia. J