Pages

Selasa, 31 Januari 2017

SECANGKIR TEH HANGAT

untuk Ibu dan Bapak, aku mencintaimu


Manis, layaknya secangkir teh hangat pagi ini.

Pagi ini murung. Mendung menggantung. Sama sekali tak memberi celah bagi surya untuk mengapung bersamanya, tidak sekecil lubang jarum pun. Sangat kontras dengan suasana hatiku yang manis, persis dengan secangkir teh hangat yang tersaji pagi ini. Entah mengapa, aku pun sulit untuk menjelaskan. Namun yang pasti, setiap teguknya memberi arti tersendiri bagiku.


Tegukan pertama, mengingatkanku dengan rumah. Tempat tinggalku dari kecil bersama dengan kedua orang tuaku. Rumah yang menjadi saksi perjalananku. Menjadi saksi suka, duka, canda, tawa, dan bahagia bersama dengan orang-orang tersayang. Rumah yang tak bisa tergantikan kenyamanannya, meski aku berada di hotel bintang lima sekali pun. Meski rumahku tak sebesar Buckingham Pallace, tak seelok istana yang ada dalam film Barbie, namun rumahku tetap yang terbaik, tetap yang terindah di mataku. Aku sangat bersyukur bisa tinggal di dalamnya.

Tegukan kedua, membawaku terbang ke kamar kesayanganku. Kamar bernuansa biru yang dipenuhi dengan hiasan bintang-bintang. Aku memang menyukai bintang, karena bagiku dia selalu ada meski tak selalu tampak. Ada satu lagi alasan aku menyukai bintang, yaitu satu kalimat yang kutemui ketika membaca novel. Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?. Selalu ada kebahagiaan tersendiri jika aku berada di dalamnya. Tiada yang bisa menandingi.

Aku melihat sekelilingku, mendung masih menggantung. Padahal seharusnya saat ini surya sudah beranjak tinggi. Tapi… hanya putih dan kelabu. Menyembunyikan senyum hangat surya. Ah, apa boleh buat. Mungkin saat ini surya sedang galau, sehingga tak sedikitpun ada sapaan darinya. Tapi aku tak perlu turut galau, aku harus ceria. Ya, aku harus tetap manis. Semanis teguk demi teguk teh hangat yang kembali kunikmati.

* * * * *

Kali ini tegukan ketiga, menghadirkan ibu dalam pikiranku. Orang tua yang mengandungku selama sembilan bulan, melahirkanku, dan selalu mengalirkan kasih sayangnya dari aku kecil hingga sekarang. Ibu bagaikan bintang bagiku. Meski tak selalu di sisiku, namun selalu menemaniku. Seperti saat ini, saat aku berada jauh darinya. Terpisah ratusan kilometer darinya, demi membuka wawasanku tentang gemerlap dunia. Memudahkan jalanku menggapai semua cita. Aku harus menahan segala bentuk rinduku kepadanya. Rindu wajah teduhnya, rindu hangat peluknya, rindu tutur lembutnya, rindu cinta kasihnya, rindu semua yang ada padanya. Setidaknya aku masih bisa merasakan, meski harus menunggu satu bulan lamanya. Meski hanya tiga hari; jumat, sabtu, dan munggu. Aku tetap harus bersyukur. Seperti nasihat yang selalu ibu kumandangkan untukku.

Tegukan keempat, masih menghadirkan ibu dalam pikiranku. Ibu yang selalu menyambut saat aku pulang dari medan perang, meski tengah malam. Ibu yang tetap memberi senyum manisnya saat dirinya lelah. Ibu yang selalu bisa membuatku tenang saat menangis tersedu. Ah, ibu memang selalu nomor satu. Seperti tak ada kata lelah untuk selalu mencurahkan cintanya, memberi kasih sayangnya. Ibu, aku rindu… kau tau? Aku selalu rindu kepadamu, Ibu. Tak peduli meski hanya berpisah satu tahun, satu bulan, satu hari, bahkan terpisah satu detik pun aku sudah rindu padamu, bu.

Tegukan kelima, tetap menghadirkan ibu dalam pikiranku. Ibu yang selalu bangun pagi untuk memasak. Ibu yang selalu menghidangkan makanan kesukaanku saat aku ada di rumah. Ibu yang selalu membuat bangun tidurku menjadi indah. Ibu yang selalu, selalu, dan selalu menjadikan hari-hariku penuh warna. Jika boleh aku membuat pengakuan, aku tak bisa menuliskan semua yang sudah dilakukan ibu untukku. Terlalu banyak yang sudah ibu berikan untukku. Banyak, sangat banyak, bahkan tak dapat dihitung, dan yang pasti sama sekali tak mengharap balas. Ya Allah… terbuat dari apakah hati ibu, sehingga tak pernah luntur cintanya, tak pernah pudar kasih sayangnya. Sekali lagi aku ingin katakana, aku selalu merindukanmu, ibuku sayang.

Aku menghela napas sejenak. Kulihat hujan sedang turun. Tampaknya langit sudah tak kuasa menahan sedihnya, dia menjatuhkan air matanya. Membuat makhluk yang ada di bumi meninggalkan sejenak aktivitasnya di jalan. Menjadikan raga yang letih langsung terlelap dalam buai mimpi. Ah, aku tidak sadar. Ternyata dzuhur telah berlalu. Tampaknya bukan karena aku tidak sadar, karena memang tak pernah cukup waktu untuk menuliskan apapun tentang ibu, sehingga waktu pun cepat untuk berlalu.

* * * * *

  Aku melongok secangkir teh hangat di depanku. Masih ada. Kunikmati kembali dan kali ini tegukan keenam, memunculkan bapak dalam pikiranku. Orang tua yang selalu menjaga, melindungi, dan menghidupiku sejak aku lahir hingga sampai saat ini.  Bapak, orang yang selalu ada buatku dalam keadaan apapun, sama seperti ibu. Bapak selalu menjemputku saat aku pulang dari medan perang, dan mengantarku kembali. Bapak juga yang mendukung setiap langkahku, mengarahkanku, memberiku contoh yang baik dalam menjalani hidup. Bapak adalah orang yang rajin bekerja. Berangkat pagi, bahkan menyaingi anak sekolah, dan pulang ketika senja hampir tiba. Untunglah ketika aku pulang, bapak juga menikmati liburnya. Ya, meskipun bapak seorang pegawai negeri, tapi ketika ada acara yang berkaitan denganku, bapak selalu meminta izin untuk menghadirinya. Ya Allah, bapak begitu baik, begitu sabar, dan perhatian. Bapak adalah orang yang selalu memberiku motivasi untuk tetap melangkah maju, menggapai cita-cita, dan meraih asa yang aku tuju.

Tegukan ketujuh. Ah, sepertinya ini tegukan terakhir teh hangat pagi ini. Baiklah, tegukan terakhir ini menyadarkanku, bahwa aku sudah terlalu lama berimajinasi, sudah terlalu lama berkutat dengan aksara-aksara yang telah terangkai. Samar-samar ada yang mengajakku bercengkerama.

“Sampai kapan kau terus-terusan asik dengan imajinasimu?” Aku mencari darimana suara itu berasal. “Hei! Aku di sini! Di sekitarmu!”

Oh, aku lupa. Ternyata masih banyak tugas akhir yang harus kukerjakan. Ternyata yang menyapaku dari tadi adalah tugas akhir yang banyak berkeliaran di sekitarku.

“Baiklah, tugas akhir, aku datang untuk menyelesaikanmu!

*** Sekian ***

Malang, 29 November 2014

19:26 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar