Selamat datang di blogku ^_^

Senin, 08 Agustus 2016

Memori 13 Juni

Aku menamaimu doa; di kala denting waktu bergulir dan menghadiahi sekelumit pinta yang bertata.

Aku bersua dengan angka yang berjajar; sama.

00:06 WIB
13 Juni 2016

Dalam Cerita

07 Mei 2016;

Antara nyata dan tiada menduga
Rautmu menyapa dalam berbagai prasangka
Inikah yang dinamai bahagia?
Fajar esok hari seakan lambat menjelma

Waktuku mendadak terhenti
Inginku mendadak menepi
Beriringan dengan beribu rinai
Otakku membisik dalam sanubari
Wujud yang diingini telah berseri
Oleh tatapmu yang tanpa basa-basi

Saksi kisah dalam aksara
Aku tuliskan dengan seksama
Pun berharap terbaca
Untukmu, dia, mereka, juga kalian semua
Tetaplah tersimpan dan terjaga
Rona bahagia dalam sorot mata
Oleh lembutmu yang masih terngiang sempurna

22:04 WIB

Kamis, 28 Juli 2016

BIMBANG

Apakah selalu kesamaan itu membuat semakin terpaku?
Semakin membuat bingung; tak menentu
Haruskah yang ditunggu menjadi abu?
Karena hati tiada berdusta dengan apa yang ia tahu.

-151215-

Sabtu, 19 Desember 2015

Aku, “Kamu”, dan Sebuah Ikrar Janji

Tanpa terasa, sudah hampir empat tahun aku melewati menit demi menit dalam hidupku di kota yang dalam mindset sebagian orang adalah kota yang “dingin”. Tanpa terasa juga, sudah banyak detik-detik yang kulewati bersama “mereka”, orang-orang hebat yang selalu ada di sampingku, memberikan supportnya untuk terus maju, dan membuatku banyak belajar dari pribadi masing-masing. Aku sadar mereka juga manusia biasa yang sama sepertiku, yang tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun dari hal itulah kami mencoba untuk melangkah bersama, saling melengkapi, mendukung satu sama lain, dan mengikrarkan sebuah janji yang kita namakan dengan “persahabatan”.



Merekalah orang-orang tangguh itu. Dari mereka aku belajar banyak hal bahwa “selama kau mampu berdiri dengan kakimu sendiri, jangan terlalu menggantungkan hidupmu kepada orang lain. Karena kamu adalah dirimu, bukan orang lain!”.

Senin, 20 Oktober 2014

Masih Tentang Kamu

Kadang aku bertanya
pada sebongkah waktu yang selalu
mengurai detik penuh cerita

Kadang aku bercengkerama
memindai aksara yang terajut
di kesempatan yang ada

Minggu, 12 Oktober 2014

Langit Masih Sama


Dalam gelap kumelihatmu.
Dalam sepi kutak kehilanganmu.
Dalam malam kumemandangmu.
Walau jauh, kumerasakan kau dekat.

Aku bahagia ketika aku mampu mengungkapkan. Menuangkan setetes kehidupan, menggoreskan aliran pengalaman, mendendangkan melodi perjalanan, meniupkan semerbak perjuangan, terbingkai dalam suka, duka, tangis, dan tawa. Meski hanya sebagai kawan sekeping hati yang mencari hiburan, aku tetap bahagia. Bagaikan berkelana menjelajah semesta yang penuh bunga, menyimpan pepohonan bermacam buah-buahan, memanjakan mata dan raga, menjadi pengobat rasa dahaga.
Sesekali jemariku menyibak tirai jendela kamar yang terbang dipermainkan angin malam. Perjalanan tinta hitamku sejenak terhenti, membiarkan sepasang mataku menikmati panorama langit malam ini. Penuh kilau mutiara yang silih berganti mengerling ke arahku. “Apakah kau juga menikmati suguhan langit malam ini? Akankah kau menangkap kerinduanku yang kutitipkan pada kerlip bintang? Bisakah kau melihat senyumku di sana?”. Saraf dalam kepalaku berkolaborasi menyusun alfabet sarat makna. Mencoba menafsirkan isyarat kalbu yang menimbun kerinduan teramat dalam. Merindukan hadirnya sosok yang hampir empat bulan sudah tak kutemui. Ya, hanya suaranya yang menjadi ramuan untuk mengobati kerinduan yang semakin hari semakin bertambah bobotnya, meski hanya untuk sementara.

“Untuk sebuah kenangan, jarak tak pernah memisahkan dua hati yang saling peduli. Walau terpisah ribuan mil, dalam hitungan detik kita akan disana kembali”.

Rabu, 07 Mei 2014

Kutulis CintaMu di Hidupku

Adaptasi dari novel Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar


            Suara kicau burung di pagi hari, terdengar menembus langit-langit kamarku. Aku masih terbaring, malas untuk bangun. Tapi sepertinya bila aku terus tertidur, matahari akan marah padaku. Aku mencoba untuk tidur kembali, tapi tak kuasa menahan sinar matahari yang terus terbayang-bayang di wajahku. Baiklah... Aku menyerah dan akan bangun. Indahnya pagi beserta cahaya matahari pagi juga mulai menyentuh seluruh isi ruangan kamarku yang cukup besar.
Namun ada yang aneh ketika aku terbangun di pagi hari. Aku merasa mataku terasa perih. Aku segera melihat ke cermin di lemari kamar. Astaga!! Mataku memerah, apa yang aku tahutkan benar-benar terjadi! Aku mendapat karma dari tingkahku yang kemarin meledek Kak Kiki, kakakku yang paling manis, yang tertular penyakit mata dari temannya. Kalau sudah begini aku hanya bisa pasrah.
Mataku tak kunjung sembuh dan terus memerah bahkan mulai mengeluarkan air mata dan terasa perih. Hidungku juga jadi sering mimisan untukbeberapa kali dalam sehari. Ayah juga mulai cemas dan bingung melihat kondisi penyakitku. Aku mulai merasa kesulitan bernafas karena lubang hidung sebelah kiriku benar-benar mati rasa sejak hari itu. Atas saran dokter pribadi keluargaku, ayah membawaku ke dokter ahli THT.
“Yuk.. ikut ke laboratorium sebentar”