Tiara terus memandang
keluar jendela kamarnya. Sejak lima menit lalu, belum sedetik pun dia melepas
pandangannya. Percakapan yang dilakukannya beberapa saat lalu seolah terus
menggelayut dalam pikirannya. Sulit baginya untuk memutuskan.
“Mama
ingin kamu melanjutkan kuliah di sini, sayang.”
“Maaf,
Ma, Tiara belum memikitkan hal itu.” Jemari Tiara berulang-ulang mengetuk pelan
meja belajarnya.
“Kamu
nggak boleh gitu dong, saying. Ini juga demi masa depan kamu. Mama hanya ingin
yang terbaik buat kamu” Terang Intan, sang Mama.
“Iya,
Ma. Tiara juga tahu itu. Tetapi Mama juga harus tahu kalau Tiara nggak mungkin
pisah dengan Mutia.” Jelas Tiara lembut, “Ma, Mutia itu saudara sekaligus
sahabat yang selalu setia kepada Tiara. Dia tempat berbagi sekaligus kawan yang
tak pernah meninggalkan Tiara sendiri, dalam hal apapun. Seandainya nanti Tiara
jadi nyusul Mama ke London, apa Mama bisa menjamin Tiara bakal nemuin orang
sebaik dan selembut Mutia?” Lanjut Tiara panjang lebar.